Menyambut Star Wars Jedi: Fallen Order
Menyambut Star Wars Jedi: Fallen Order

Game ini menjanjikan pengalaman single-player murni, tanpa multiplayer dan bebas dari microtransaction.
Sesuai rencana, detail gres mengenai Star Wars Jedi Fallen Order diungkap di program Star Wars Celebration Chicago 2019 ahad kemarin, tak usang selepas penayangan trailer perdana The Rise of Skywalker. Dan di sana, tersibak banyak gosip menarik mengenai permainan gres racikan Respawn Entertainment itu – studio yang turut bertanggung jawab dalam pengembangan seri Titanfall dan Apex Legends.

Setelah beberapa game Star Wars Electronic Arts yang mengecewakan, publik melihat Jedi: Fallen Order dengan sinis sekaligus penuh harap. Reboot dua game Battlefront oleh EA DICE terbilang minim konten dan dinodai duduk perkara microtransaction, tapi di sisi lain, karya-karya Respawn terkenal akan tingginya kualitas konten. Lihat saja mode campaign Titanfall 2 yang berdasarkan beberapa gamer veteran mirip petualangan di Half-Life 2 – dan saya bahkan belum membahas betapa adiktif aspek multiplayer-nya.

Hal paling mengejutkan dari penyingkapan lebih jauh Jedi: Fallen Orders yaitu Respawn mengembangkannya sebagai permainan single-player murni yang difokuskan pada aspek narasi dan cerita. Game tidak memiliki mode multiplayer, kemudian CEO Vince Zampella menjamin absennya microtransaction. Langkah ini sangat tidak biasa. Respawn telah jadi bab dari EA semenjak final 2017, namun apa yang mereka lakukan itu tampak bertolak belakang dengan seni manajemen publisher dalam menyajikan ‘game sebagai layanan’.

Konsep pengembangan secara ‘lebih tradisional’ ini memang membuat Jedi: Fallen Order terlihat unik, tetapi ada sederatan lagi aspek yang menjadikannya sangat menarik. Satu teladan kecilnya: Jedi: Fallen Order dibangun memakai Unreal Engine 4 (milik Epic Games) ketika game-game EA lain mengusung engine Frostbite – yang secara teknis kurang terkenal di kalangan developer alasannya yaitu kerumitan pemakaiannya.

Esensi single-player
Ada deretan panjang permainan LucasArts yang menemani saya tumbuh dewasa, dan sebagian besar dari mereka yaitu Star Wars. Dan berdasarkan pengalaman saya, game-game Star Wars terbaik ialah judul-judul yang difokuskan pada single-player, di antaranya seri Dark Forces, Jedi Knight, TIE Fighter dan X-Wing, Rogue Squadron, Star Wars Episode I: Racer, hingga Knights of the Old Republic.

Sejak pertengahan 1990-an hingga 2000-an, sejumlah developer di bawah pengawasan LucasArts memang mulai mencantumkan mode multiplayer, bahkan menggarap beberapa game secara khusus semoga bisa dinikmati bersama-sama, contohnya X-Wing versus TIE Fighter atau Battlefront. Namun sekali lagi, studio-studio ini sama sekali tidak melupakan esensialnya single-player. Sebagai buktinya, Anda tetap bisa bermain seorang diri di kedua judul itu.

Hanya ada sejumput game langsung multiplayer Star Wars yang berumur panjang, walaupun tak jarang developer harus mengubah model bisnis serta struktur permainan demi mempertahankan ekosistem pemain. The Old Republic masih memiliki pemain setia hingga hari ini, tetapi bila Anda ingat, server Star Wars Galaxies sudah ditutup delapan tahun silam.

Kuantitas game Star Wars merosot cukup jauh semenjak Disney membeli Lucasfilm di tahun 2012 dan menawarkan hak langsung pengembangan permainan pada EA. Salah satu alasannya saya duga yaitu retcon yang dilakukan Disney terhadap Expanded Universe (mengubahnya jadi ‘Legends’) demi menawarkan ruang perluasan pada film-film berikutnya. Tak mirip dulu, sekarang sang pemegang franchise menjaga canon dongeng secara lebih ketat. Tidak cuma game, bahkan penulisan novel Star Wars harus menunggu keputusan dari Disney.

Di E3 2018, Zampella memberikan bahwa tokoh utama Jedi: Fallen Order ialah seorang Padawan (ksatria Jedi yang masih dalam pelatihan) dan permainan akan menyuguhkan pertarungan berbasis lightsaber. Premis ini membuat saya berharap semoga Jedi: Fallen Order menyajikan pertempuran jarak dekat seru sekelas seri Jedi Knight. Ada banyak game Star Wars lebih anyar yang juga menghidangkan agresi lightsaber (Revenge of the Sith, The Force Unleashed), namun kompleksitas dan kualitasnya belum bisa menyamai Jedi Knight.

Alasannya sederhana: tak mirip di game lain, lightsaber di seri Jedi Knight bersifat aktif. Ia bisa memotong objek serta meninggalkan bekas di tembok tanpa perlu Anda ayunkan, dan akan selalu berbahaya ketika dinyalakan. Dipadu sistem pertarungan tiga dimensi penuh manuver-manuver lincah, setiap duel terasa menegangkan dan sulit diprediksi. Via standalone expansion pack Jedi Academy, developer Raven Software mengekspansi pertarungan lightsaber dengan gaya dua pedang (Jar’Kai) serta opsi saberstaff ala Darth Maul.

BACA JUGA:  Game Mobile Attack on Titan: Assault Telah Rilis, Yuk Tumpas Habis Para Titan!

Belum ada info apapun dari Respawn soal sistem tempur di Jedi: Fallen Order. Namun melihat video teaser motion capture, saya membayangkan betapa luar biasanya bila game memanfaatkan lagi sistem ini.

Talenta di belakang Fallen Order
Faktor lain yang membuat Jedi: Fallen Order jadi sangat menjanjikan yaitu individu-individu di belakang pengerjaannya. Di 2014, mantan staf senior SCE Santa Monica Studio Stig Asmussen bergabung bersama Respawn, dan dua tahun kemudian, ia membenarkan sudah diberi doktrin untuk jadi game director permainan action-adventure third-person Star Wars baru. Asmussen ialah sosok yang berjasa dalam pembuatan seri God of War, berpengalaman menjadi lead environment artist hingga art director.

Tentu saja Asmussen bukan satu-satunya andalan sosok Respawn. Pembuatan ceritanya saja dilakukan secara kolaboratif oleh enam penulis sekaligus: ada Chris Avellone yang punya begitu banyak pengalaman menulis dongeng video game (termasuk Knights of the Old Republic 2: The Sith Lords) dan writer Mafia III, Aaron Contreras. Dalam diskusi panel di SWCC 2019, Asmussen sempat memberikan bahwa penulis serial Rebels dan Clone Wars turut ambil bab pada peracikan narasi Jedi: Fallen Order.

Jedi: Fallen Order memperkenalkan huruf protagonis berjulukan Cal Kestis. Game menantang kita untuk memandunya bertahan hidup di masa-masa gelap, tak usang setelah Kaisar Palpatine mengeksekusi Order 66 demi menghabisi seluruh Jedi, dengan latar belakang antara Episode III dan IV. Respawn menentukan bintang film Cameron Monaghan buat memerankan Kestis, baik di sisi pengisian bunyi ataupun motion capture. Sebelumnya, bintang film berusia 25 tahun ini bermain di serial Gotham (sebagai Joker) dan Shameless. Jedi: Fallen Order merupakan proyek video game pertamanya.

Untuk memastikan game terasa menyegarkan walaupun di-setting di jagat Star Wars, Respawn berkolaobrasi langsung bersama Lucasfilm buat membuat karakter-karakter serta lokasi-lokasi baru. Di petualangannya, Kestis bukan hanya harus bersembunyi dari kejaran Stormtrooper, tapi ia juga dipaksa berhadapan dengan para Sith Inquisitor yang mematikan. Trailer-nya sendiri belum benar-benar memperlihatkan adegan pertarungan lightsaber – tampaknya Respawn menyiapkan bab ini sebagai kejutan.

Langkah Anti-EA oleh studio milik EA?
Seperti yang saya bilang tadi, absennya microtransaction dan mode multiplayer merupakan hal terunik dari Jedi: Fallen Order. Dengan mengedepankan konsep games as a service, Electronic Arts tentu saja ingin menyodorkan penawaran-penawaran in-app sebanyak mungkin sehabis game dirilis. Dan cara ini paling efektif diaplikasikan pada judul-judul multiplayer (walaupun Ubisoft cukup sukses melakukannya via penjualan item-item kosmetik di Assassin’s Creed Origins dan Odyssey).

Penyuguhan Jedi: Fallen Order sebagai permainan langsung single-player terasa mirip antitesis dari apa yang selama ini EA lakukan. Boleh jadi, alasan mengapa penyajian Jedi: Fallen Order tidak mirip permainan EA lain adalah, Respawn menuntut kebebasan pengembangan game ketika mendiskusikan syarat dan ketentuan akuisisi bersama sang publisher. Kita tahu, pengerjaan game dimulai jauh sebelum kesepakatan tersebut, kemungkinan besar tak usang sehabis proyek Titanfall pertama rampung.

Semua ini terdengar sebagai kabar bangga bagi kita yang merindukan permainan-permainan single-player bermutu. Dan bila Jedi: Fallen Order laku terjual dan memperoleh kebanggaan dari media, ada kemungkinan EA punya satu IP lagi yang sanggup disandingkan dengan franchise-franchise raksasa lain di genre action. Dan siapa tahu, kesuksesan game nantinya mendorong EA untuk mengubah seni manajemen bisnisnya sehingga lebih akrab bagi konsumen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here