Konsumen Habiskan $ 387 Juta Demi Menikmati Cloud Gaming di Tahun 2018
Konsumen Habiskan $ 387 Juta Demi Menikmati Cloud Gaming di Tahun 2018

Seberapa pun revolusionernya premis cloud gaming, banyak orang masih belum yakin layanan ini akan benar-benar menggantikan platform permainan video konvensional. Keraguan itu tentu punya alasan jelas. Streaming game intinya membutuhkan pinjaman internet yang cepat dan stabil. Lalu sampai ketika ini, jasa gaming on demand (termasuk buatan para raksasa hiburan) juga gres bisa diakses secara terbatas.

Kepercayaan terhadap cloud gaming berpeluang meningkat begitu layanan Google, Microsoft dan Amazon tersedia global nanti. Untuk sekarang, sebagian besar pemain menyediakan jasa on demand secara domestik, termasuk milik developer-developer lokal mirip gameQoo dan Skyegrid. Namun satu hal menggembirakan yang kita tak sadari ialah, platform game streaming ternyata berhasil membuat laba cukup besar di tahun lalu.

Minggu ini, IHS Markit menyingkap hasil studi mereka terhadap industri cloud gaming di 2018. Tahun lalu, konsumen mengeluarkan jumlah uang yang tidak sedikit demi mengakses konten-konten on demand, yakni sebesar US$ 387 juta. Angka tersebut diprediksi meningkat berkali-kali lipat dalam lima tahun ke depan, berpotensi menyentuh US$ 2,5 miliar di tahun 2023.

IHS Markit menjelaskan bahwa pengumuman serta pengambil alihan strategis yang dilakukan oleh raksasa-raksasa teknologi mirip Microsoft, Amazon, Google serta Tencent mengindikasikan bagaimana cloud akan jadi medium persaingan berikutnya. Sebelumnya, cloud gaming sempat memberi dampak bagi sektor gaming high-end, tapi gres di masa-masa ini ia akan mendisrupsi industri secara masif.

Tim analis menilai, kondisi ini akan menguntungkan nama-nama yang mempunyai susukan ke infrastruktur cloud serta perusahaan yang bisa menyuguhkan layanan secara efisien. Begitu besar potensi ranah ini dan efeknya pada industri hiburan, Sony terdorong untuk menggandeng Microsoft demi memperoleh susukan ke teknologi cloud Azure. Sementara itu, pemilik platform game stream yang ada kini berupaya terus memperluas strategi, kemudian para publisher permainan juga mulai berani menantang pemegang platform tradisional.

BACA JUGA:  Nggak Cuma di Jump Force, Shaggy Juga Muncul di Resident Evil 2 Remake untuk Lawan Mr. X

IHS Markit mencatat ada 16 platform cloud gaming di PC yang aktif beroperasi di level global sampai selesai 2018 dan Sony PlayStation Now merupakan pemimpin pasar dengan mengusai 36 persen. Menariknya, selama ini Sony terlihat menahan diri dan gres mulai bermanuver bergairah dalam waktu 12 bulan ke belakang. Koleksi konten pribadi masih menjadi senjata andalan mereka.

Dilihat dari perspektif wilayah, gamer Jepang ternyata yang mengeluarkan uang paling banyak demi menikmati game secara on demand di tahun 2018, yaitu sebesar US$ 178 juta. Di posisi kedua ialah konsumen di Amerika, lebih banyak didominasi didorong oleh ketersediaan PlayStation Now. Lalu di kawasan ketiga ada Perancis yang menjadi kawasan inkubasi subur startup-startup cloud gaming.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here