Observer dan Referee, Pekerjaan Penting yang Tersembunyi di Balik Hingar Bingar Esports
Observer dan Referee, Pekerjaan Penting yang Tersembunyi di Balik Hingar Bingar Esports

Kendati memegang kiprah yang sangat vital di dalam sebuah event esports, namun dua pekerjaan ini kerap dimarginalkan.
Masih banyak yang salah kaprah bahwa karier di esports hanyalah soal menjadi atlet saja. Sebagai wajah dari esports, tak ajaib bila sosok atlet yaitu sosok paling disorot. Namun nyatanya, ada ragam karier yang bisa dikerjakan di dalam ekosistem esports. Selain dari pekerjaan caster yang bekerja di depan layar, ada juga banyak pekerjaan lain yang tersembunyi di balik layar. Sosok yang akan kita bahas kali ini punya tanggung jawab yang besar di dalam mempertahankan integritas sebuah event esports.

Sosok tersebut yaitu observer dan juga referee. Dua sosok ini bekerja di belakang layar, yang menciptakan mereka kerap tidak mendapat sorotan, walau kiprah pekerjaanya sangat penting. Makara apa bergotong-royong kiprah dari seorang observer dan referee? Bagaimana kiprah mereka di dalam sebuah event esports? Bagaimana nasib jenis pekerjaan yang satu ini di dalam ekosistem esports Indonesia? Kali ini Hybrid akan mengupas tuntas seputar dua pekerjaan tersebut.

Apa itu Observer dan Referee di dalam Esports?
Sebelum lebih jauh membahas pekerjaan ini di dalam ekosistem esports Indonesia, mari kita terlebih dahulu mengenal apa tugas-tugas observer dan referee. Mulai dari observer lebih dahulu, sederhananya pekerjaan ini bertugas untuk mengendalikan in-game camera di dalam sebuah tayangan esports.

Lebih lanjut ihwal kiprah Observer, British Esports Association menjelaskan bahwa kiprah mereka termasuk: mengidentifikasi momen-momen penting di dalam permainan, memastikan kamera menyoroti aspek paling menarik di dalam suatu pertandingan, dan menyoroti momen penting untuk dijadikan replay.

Pada sebuah laman perekrutan, Riot Games mendeskripsikan beberapa kualitas diri yang perlu dimiliki dari seorang observer. Ada dua hal yang penting, salah satunya yaitu mata Anda harus lihai. Maksudnya lihai yaitu Anda harus mempunyai tingkat fokus yang tinggi, serta mata yang terlatih semoga sanggup menjaga kamera tayangan pribadi in-game selalu menyorot momen yang penting, dengan keakuratan yang disebut sebagai pixel perfect accuracy.

Seorang observer juga harus fasih terhadap game yang diawasi: paham luar dalam game yang akan disoroti. Kalau dalam hal MOBA misalnya, seorang observer harus paham macro play dan alasan di balik pergerakan seorang hero. Dalam beberapa hal, sebagai indikator tingkat pemahaman sang observer terhadap game yang mereka soroti, kadang kala observer juga perlu mempunyai rank yang tinggi terhadap game yang disoroti,

Lalu bagaimana dengan pekerjaan referee atau wasit? Sebenarnya pekerjaan ini kurang lebih sama dengan wasit di dalam olahraga. Kembali mengutip British Esports Association, kiprah dari seorang wasit yaitu menjaga jalannya sebuah pertandingan, memastikan para pemain mentaati peraturan, dan berani tegas menindak tim atau oknum yang melanggar peraturan tersebut.

Selain itu, kiprah wasit kadang juga termasuk, set-up perlengkapan di atas panggung, test server, merapihkan bracket, dan memastikan semuanya berjalan sesuai dengan jadwal. Referee juga punya tanggung jawab untuk menuntaskan informasi yang terjadi di atas panggung, contohnya seperti, PC yang freeze, keyboard rusak, problem internet, atau mungkin problem earphone yang rusak.

Maka dari itu, seorang wasit juga harus paham game yang akan mereka awasi. Mungkin tak harus paham luar dalam mirip Observer, namun setidaknya paham dasar-dasarnya. Seorang wasit juga dituntut harus mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, bisa menuntaskan informasi dan mengambil keputusan dengan cepat, dan tentunya berani tegas menindak segala pelanggaran.

Observer dan Referee di Ekosistem Esports Indonesia
Oke, sehabis kita bicara soal definisi, tugas-tugas, serta kemampuan yang perlu dimiliki dari seorang observer dan referee; pembahasan selanjutnya yaitu soal pekerjaan ini di dalam ekosistem esports Indonesia. Saya mencoba membahasnya dari dua sisi, pertama dari sisi event organizer sedangkan kedua dari sisi praktisi pekerjaan observer dan referee itu sendiri.

Untuk perwakilan dari EO, saya mewawancara Irliansyah Wijanarko, Chief Growth Officer dan Co-Founder dari RevivalTV. Bicara soal pekerjaan ini, pertanyaan pertama yang muncul adalah, seberapa diperlukan pekerjaan ini di ekosistem esports Indonesia? Kalau di luar negeri, observer dan referee sudah menjadi standar, dan harus selalu ada di dalam setiap event esports. Kalau di Indonesia bagaimana?

Irli menyampaikan bahwa konteks Indonesia sama dengan luar negeri. Peran dua pekerjaan ini sangatlah penting, terutama referee yang tugasnya menjaga integritas sebuah kompetisi. “Peran referee ini sangatlah vital, apalagi untuk kompetisi high level mirip MPL, MSC atau PINC. Kalau di luar negeri, perlu lisensi tertentu untuk menjadi referee esports. Kalau di Indonesia sih masih belum seketat itu, dan kebanyakan referee di Indonesia juga masih bersifat freelance.”

Walau demikian, sebagai salah satu EO besar di ekosistem esports Indonesia, Irli mengaku mempunyai divisi tersendiri untuk soal referee ini. Divisi tersebut berjulukan League Ops Division. Divisi tersebut berisi orang-orang yang berdedikasi untuk mengurus sistem turnamen, banyak sekali macam hal seputar operasional sebuah kompetisi, dan termasuk mengurusi soal referee. Tetapi walau ada divisi khusus untuk wasit dan admin, Irli mengaku bahwa ia sendiri tetap butuh pekerja referee freelance.

“Salah satu contohnya sih untuk event kaya MPL, biasanya kita hire referee freelance juga. Tapi untuk liga yang sifatnya reguler mirip MPL, biasanya kita pakai sistem kontrak satu musim. Supaya integritas acaranya terjaga, dan referee-nya bisa mengikuti dari awal hingga final turnamen.” jawab Irli membahas soal sistem perekrutan referee RevivalTV.

Lalu, apakah mencari freelance referee atau observer itu yaitu hal yang sulit? Apalagi mengingat jadwal event esports Indonesia yang sempat tumpang tindih, mirip ketika ESL Clash of Nations 2019dan Piala Presiden Esports 2019 kemarin. “Susah!” jawab Irli.

BACA JUGA:  RRQ Epic Mampu Rebut Peringkat 2 Dunia di Turnamen PBIC 2019

Menurutnya, mencari referee jadi sulit alasannya tidak banyak orang yang punya seperangkat kemampuan yang dibutuhkan. “Susahnya yaitu mencari orang yang punya nyali untuk tegas, dan berani memegang teguh peraturan, walau ditekan oleh banyak sekali pihak.” Cerita Irli.

Lalu bagaimana dengan pekerjaan observer? Jawabannya masih cukup senada, yaitu sulit. Irli menyampaikan bahwa mencari observer biasa itu mudah, tapi yang sulit yaitu mencari observer yang mahir. Menurut Irli, tantangan mencari observer yaitu alasannya sulitnya mencari orang yang paham luar dalam terhadap gamenya, dan sanggup bekerja di dalam tim bersama dengan tim produksi. “Basically beliau mesti bisa baca game. Makanya berdasarkan gue, seorang observer harus punya rank tinggi pada game yang ia kuasai. Kalau di RevivalTV, observer Mobile Legends minimal harus rankmythical glory bintang 100++.”

Setelah mendengar dari sisi EO, kami juga mewawancara salah satu praktisi observer dan referee di Indonesia. Bicara soal tantangan pekerjaan, Fadhel “ROSESA” Irawan, salah satu observer ternama di Dota 2, dongeng ihwal tantangan pekerjaan menjadi observer. “Kalau di event, mau itu besar ataupun kecil, tanggung jawab seorang observer itu sangat besar. Kenapa? Karena kiprah observer juga menjaga mood penonton. Kalau kita miss moment, pastinya kita yang bakal disalahin. Makanya untuk observer gres biasanya belum bisa pegang event besar. Karena organizer kompetisi besar niscaya butuh bakat yang berkualitas, termasuk dalam hal observing.”

Tanggung jawab pekerjaan observer memang sebegitu tinggi, begitu juga dengan referee. Seperti sudah disebutkan pada bab awal artikel ini, bahwa referee harus menjaga pertandingan berjalan mulus dan menegakkan rules yang berlaku di dalam kompetisi tersebut.

Lebih lanjut, kami menanyakan Daniel Manurung, referee yang sudah cukup usang malang melintang di ekosistem esports Indonesia. Ia menjelaskan bahwa seorang referee harus memahami rules semua game dan tentunya juga harus netral di dalam setiap keadan. Lalu selain itu, ia juga dongeng sedikit pengalamannya menjadi referee di ekosistem esports Indonesia. “Jadi referee alhasil cukup besar, dan niscaya ditekan dari banyak sekali pihak. Contohnya kalau game telat, kadang kala referee yang disalahin, padahal yang telat yaitu player-nya. Kalau bicara tantangan paling besar, hal tersebut yaitu ketika harus memberi keputusan bila ada sengketa tertentu. Hal tersebut jadi tantangan paling besar karena, kalau kita (referee) salah memberi keputusan, dampaknya sudah niscaya bakal sangat fatal.”

Melihat tanggung jawab pekerjaan seorang referee dan observer yang bergotong-royong sangat berat, pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, apakah bayarannya sepadan? Kalau kita kembali mengutip klarifikasi British Esports Association, bayaran seorang observer dan referee bergotong-royong cukup tidak mengecewakan di luar negeri sana.

Observer dikatakan bisa mendapatkan 250 Pound (Rp4,5 juta) hingga dengan 400 Pound (Rp7,3 juta) dalam satu seri pertandingan. Referee terbilang cenderung lebih kecil, yaitu mulai dari 50 Pound (Rp900 ribu) hingga dengan 100 Pound (Rp1,8 juta) per hari kerja. Namun bayaran seorang referee bisa sangat besar bila sifat pekerjaannya full-time. Dikatakan di sana, full-time referee bisa mendapatkan hingga dengan 20.000 Pound (Rp365 juta) per tahun, atau sekitar 1600 Pound per bulan (Rp29 juta).

Bagaimana kalau di Indonesia? Kami pun mencoba menanyai observer dan referee lain yang tidak bisa kami sebutkan namanya di ekosistem esports Indonesia. Mereka mengakui bahwa bayaran dua pekerjaan tersebut masih terbilang kecil untuk ukuran Indonesia sekalipun. Pekerjaan observerfreelance dibayar dengan cukup beragam, mulai dari Rp250-300 ribu hingga Rp500-750 ribu per harinya. Menariknya, bayaran sebesar Rp250-300ribu itu ternyata malah tiba dari salah satu eventesports tingkat internasional di Indonesia.

Pekerjaan referee malah lebih parah. Menurut legalisasi dari referee yang kami tanyai, ia hanya mengambil pekerjaan referee freelance yang bayarannya minimal Rp300 ribu per hari. Tapi ia juga dongeng bahwa dirinya pernah dibayar sebesar Rp750 ribu ketika menjadi wasit kepala, dan menyampaikan ada juga event yang membayar wasit sebesar Rp500 ribu per hari. Lalu apakah ada event yang membayar referee lebih kecil dari Rp300 ribu. Sang referee kemudian menceritakan salah satu pengalamannya, “paling kecil waktu itu saya pernah dibayar Rp125 ribu kemudian dipotong pajak 5%. Makara saya terima higienis Rp115 ribu per hari, pada salah satu eventesports di Indonesia.”

Seiring berkembangnya ekosistem esports di Indonesia, pekerjaan mirip esports referee atau observer sekarang jadi lebih dibutuhkan. Pekerjaan ini juga mirip pekerjaan shoutcaster yang jadi perangkat wajib dalam sebuah eventesportsoffline.

Namun demikian, cukup miris melihat legalisasi dari observer dan referee soal bayaran yang mereka terima. Memang, perputaran uang di ekosistem esports Indonesia tidak sama besarnya dengan perputaran uang di ekosistem esports luar negeri. Namun, berdasarkan saya, bayaran tersebut harusnya bisa lebih besar lagi; mengingat tanggung jawab besar yang diemban dua pekerjaan tersebut.

Akhirnya, harapannya, dengan artikel ini orang-orang mulai menyadari betapa pentingnya dua pekerjaan ini dan bayaran minimal tak akan menciptakan banyak orang terpacu untuk menjadi lebih baik ataupun tertarik untuk menggelutinya.

Karena idealnya, sebuah industri sanggup menunjukkan bayaran yang sepadan dengan segala jerih payah yang dikeluarkan dan sanggup menyejahterakan semua pihak yang terkait di dalamnya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here