Opini Shroud wacana Mengapa Battle Royale Tidak Akan Sukses Sebagai Esports
Opini Shroud wacana Mengapa Battle Royale Tidak Akan Sukses Sebagai Esports

Perlu ada perubahan biar mid-game lebih aktif dan late game tidak terlalu bergantung keberuntungan.
Battle royale dalam beberapa tahun terakhir sudah menjadi genre besar di dunia esports. Apalagi dua raksasa battle royale dunia yaitu PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) dan Fortnite Battle Royale sama-sama memperlihatkan derma maksimal terhadap ekosistem esports mereka. Termasuk mengadakan kompetisi-kompetisi besar kelas dunia, mirip PUBG Mobile Star Challenge dan Fortnite World Cup yang sekarang sedang berjalan.

Akan tetapi di balik gegap gempitanya turnamen-turnamen tersebut dan jutaan dolar hadiah yang menyertainya, battle royale sudah usang memunculkan kekhawatiran. Banyak pihak—baik atlet, kreator konten, atau tim—merasa bahwa battle royale tidak nyaman untuk dimainkan secara kompetitif, bahkan mungkin tidak akan bertahan lama.

Salah satu figur publik yang baru-baru ini angkat bunyi wacana hal ini yaitu shroud (Michael Grzesiek), mantan atlet profesional Counter-Strike: Global Offensive yang sekarang dihormati sebagai pemain battle royale terbaik di jagat Twitch. Dilansir dari Dot Esports, shroud sempat berkata di tayangan live stream miliknya bahwa battle royale memang menyenangkan untuk dimainkan secara kasual, tapi sebagai esports tidak akan sukses alasannya yaitu terlalu mengandalkan keberuntungan.

“Anda mustahil menghilangkan RNG (random number generator) di awal game, wacana siapa yang menerima loot apa. Hal itu akan tetap ada, itulah yang membuat (battle royale) menarik. Tapi seiring waktu berjalan, yang membuatnya jadi kurang menarik yaitu di mid-game. Karena di mid-game semua orang bersembunyi, kemudian late game jadi kacau-balau alasannya yaitu semua orang tadi bersembunyi ketika mid-game,” papar shroud.

Alur permainan mirip ini, kata shroud, pada karenanya menghasilkan peristiwa di mana “ada 40 orang yang bertarung di akhir”. Dengan pertempuran sedemikian rusuh di circle (area pertempuran) yang sangat kecil, tugas keahlian bermain jadi berkurang dan kemenangan lebih ditentukan oleh siapa yang lebih beruntung saja. Menurut shroud seharusnya tidak mirip itu. Bila ada unsur keberuntungan di awal game itu tidak apa-apa, namun jangan hingga keberuntungan memilih hasil seluruh pertandingan. “Pasti ada jalan keluarnya,” kata shroud kemudian.

BACA JUGA:  Pekan 3 Big League IGL 2019, Pertarungan Sengit RRQ.Eggsy Melawan Raja.Huggin

Sistem battle royale dalam dunia esports memang sedikit kurang seimbang, alasannya yaitu penggunaan sistem poin yang ditentukan oleh peringkat simpulan tiap rondenya. Meski ada poin bonus dari hasil kill, pada karenanya hasil terbaik ditentukan oleh siapa yang paling usang bertahan hidup. Karena itu menghindari pertempuran merupakan strategi valid, namun akan membuat pertandingan jadi tidak menarik ditonton.

Turnamen Twitch Rivals Apex Legends beberapa waktu kemudian sedikit mengubah hal itu dengan cara memperlihatkan poin lebih sedikit pada tim yang menang. Hanya tim peringkat 1 yang menerima poin, yaitu senilai 5 poin saja, sementara setiap kill akan memperlihatkan 1 poin. Kaprikornus tim yang tereliminasi di tengah ronde sangat mungkin memperoleh hasil lebih tinggi daripada tim yang berhasil “Chicken Dinner”.

Apex Legends sendiri memang merupakan game dengan irama permainan cepat, dan mempunyai arena lebih kecil dari battle royale pada umumnya. Kaprikornus membuat pertandingan heboh yang penuh agresi di Apex Legends cenderung lebih mudah. Developer battle royale lain perlu memutar otak untuk membuat keseruan yang sama, biar esports battle royale jadi lebih seru untuk ditonton dari awal hingga akhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here