Menilik Geliat dan Perkembangan Esports R6S di Indonesia
Menilik Geliat dan Perkembangan Esports R6S di Indonesia

Bagaimanakah kondisi esports R6S yang punya basis besar lengan berkuasa pada komunitas?
Buat yang memang peduli dengan ekosistem esports Indonesia, bahwasanya masih banyak komunitas game tertentu yang termarginalkan mirip Fighting Game Community, komunitas PES, Hearthstone, FIFA, CS:GO, Sim Racing, dan yang lain-lainnya. Kali ini, kita akan membahas satu lagi yaitu komunitas esports R6S (Rainbow Six: Siege) di Indonesia.

Saya pribadi dan Hybrid sendiri memang menolak untuk hanya membahas apa yang sedang ramai di Indonesia. Kenapa? Karena saya tahu betul bagaimana rasanya dipinggirkan… Plus, sudah banyak juga media-media lain yang membahas game dan esports yang sedang jadi tren ketika ini.

Jadi, tanpa basa bau lagi, mari kita berkenalan lebih bersahabat dengan salah satu komunitas esports yang mungkin kecil dari sisi jumlah namun sampaumur dan ambisius, R6 IDN.

Kali ini, saya ditemani oleh Bobby Rachmadi Putra yang merupakan Community Leader untuk R6S di Indonesia untuk menjadi narasumber kita.

Awal Mula dan Cerita Komunitas R6S di Indonesia
Sebelum komunitas ini bermukim di Facebook Group, berdasarkan dongeng Bobby, sudah ada komunitas R6S di KASKUS semenjak trailer pertama R6S dirilis untuk E3 2013. Namun demikian, ketika game ini dirilis di Desember 2015, thread starter di lembaga digital terbesar tadi justru tidak membeli game-nya. Karena itulah, Bobby bersama 3 orang lainnya (Izzan, DarkTangoCat, dan Harris) menciptakan komunitas Discord untuk R6S.

Di ketika yang sama, ternyata Bobby pun menemukan sudah ada yang menciptakan grup di Facebook untuk R6S. 2 komunitas dari platform yang berbeda ini pun bergabung.

Kegiatan komunitas R6S di grup Facebook ini pun sudah bermacam-macam mulai dari diskusi alias tanya jawab seputar tips dan trik R6S, membantu pihak Ubisoft menuntaskan persoalan bug in-game, nonton bareng turnamen internasional, gathering di event offline (kala itu ESL Clash of Nation), ataupun Art Competition (cosplay dan fan art). Satu hal yang menarik, Ubisoft sendiri yang menyediakan hadiah (total Rp3,5 juta) untuk Art Competition komunitas ini.

Satu hal yang saya sendiri kagumi dengan komunitas R6S ini yaitu anggotanya yang boleh dibilang cukup sampaumur soal perilakunya. Kebetulan saja, saya sendiri juga moderator untuk 2 game esports terkenal di Indonesia ketika ini; jadi saya tahu betul bagaimana perbandingannya. Saya tak perlu sebutkan nama game-nya ya berhubung saya takut dihujat warganya; yang terang 2 game esports (mobile) tersebut yaitu 2 dari 3 game esports paling ramai ketika ini.

Sayangnya, kebanyakan pelaku industri esports Indonesia ketika ini masih hanya memperhatikan jumlahnya semata, tanpa memperhatikan kedewasaan sikap para pemainnya. Sayangnya, memang kebanyakan pelaku industri esports Indonesia masih terjebak pada soal volume sebagai satu-satunya tolak ukur. Mungkin lain kali, kita akan bahas lebih jauh soal ini.

Tentang Ajang Kompetitif R6S di Indonesia
Meski mampu dibilang kecil dari sisi jumlah, komunitas R6 IDN cukup rajin dalam menunjukkan ruang kompetitif.

Sebelum kita membahas turnamen-turnamennya yang ada ketika ini, mari kita melihat ke belakang sejenak untuk melihat perkembangan ekosistem esports R6S dari waktu ke waktu.

Bobby bercerita bahwa turnamen R6S pertama yang mereka buat yaitu kompetisi 17an di tahun 2016. Kala itu, hadiah turnamennya masih berupa kaos custom. Di tahun ini, masih belum ada turnamen lainnya meski memang komunitas ini kerap bermain bersama (random fun match).

Tahun 2017, komunitas ini kembali menggelar kompetisi 17an namun dengan penerima yang lebih banyak. Di tahun ini, R6 IDN juga menggelar turnamen rutin mereka yang diberi nama Indonesian Series League (kala ini masih disebut Indonesian Tournament Series).

Untuk turnamen pertama mereka ini, total hadiahnya sebesar Rp3 juta yang didapat dari biaya registrasi dan iuran para pengurus komunitas. Turnamen ini dimulai ketika itu alasannya yaitu mereka melihat komunitasnya sudah mulai ramai. Selain itu, tujuan turnamen ini yaitu untuk menggaet lebih banyak pemain R6S untuk bergabung bersama komunitasnya.

Di tahun 2018, R6 IDN pun menciptakan turnamen gres yang jenjangnya lebih rendah, yang diberi nama Community Cup.

Indonesian Series League (ISL) pun berlanjut di awal tahun (sekitar bulan April) 2018. Namun, ISL kedua ini masuk dalam rangkaian turnamen Run N Gun 4 Nations. Kala itu, ISL 2 berfungsi sebagai kualifikasi untuk memilih siapa wakil Indonesia yang mampu berlaga di turnamen yang melibatkan penerima dari 4 negara, Indonesia, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Di bulan April 2018 ini juga, Bobby pun mengaku sudah cukup intens berkomunikasi dengan pihak Ubisoft. Kita akan membahas lebih jauh ihwal perlindungan Ubisoft ke R6 IDN di bab selanjutnya.

ISL 3 yaitu turnamen pertama R6 IDN yang menerima perlindungan pribadi dari Ubisoft. Total hadiah yang ditawarkan oleh turnamen ini pun mencapai Rp10 juta. Kala itu, ISL 3 juga sudah diikuti oleh 32 tim (satu tim berisikan 5 orang pemain). Bulan Desember 2018, ISL 4 pun digelar.

Di 2019 ini, R6 IDN sudah merencanakan jenjang kompetitif yang lebih rapih dari sebelumnya. ComCup masih ada (sampai artikel ini ditulis, sudah hingga ComCup ke 12) dan menjadi turnamen dengan jenjang terendah. R6 IDN juga menyesuaikan beberapa peraturan untuk ComCup di awal tahun ini semoga lebih sesuai dengan jenjangnya.

Di atas ComCup, ISL juga masih dipertahankan untuk menjadi turnamen dengan jenjang yang lebih tinggi. Selain ComCup dan ISL yang sudah ada di tahun sebelumnya, R6 IDN juga memperkenalkan 2 turnamen gres yang ditujukan untuk jenjang yang lebih tinggi lagi: Star League dan Major Event.

Star League sendiri sudah berjalan dari awal tahun (Januari) 2019. Turnamen ini diposisikan di atas ISL alasannya yaitu memang ada kualifikasinya dan dibagi jadi 2 kelas. Untuk Major Event, Bobby masih belum mampu banyak bercerita ihwal ini. Namun yang pasti, Major Event ini akan menjadi kulminasi dari semua ajang kompetitif R6S di Indonesia.

Dari klarifikasi tadilah, saya kira memang komunitas ini mampu disebut ambisius. Pasalnya, setidaknya dari yang saya tahu, tidak banyak scene esports game lainnya yang punya jenjang kompetitif yang rapih mirip yang yang coba ditawarkan oleh R6 IDN. R6 IDN ini punya jenjang kompetitif dari tingkat rookie (ComCup), semi-pro (ISL), dan profesional (Star League); hingga kulminasi dari semua jenjang kompetitif tadi (Major Event).

Padahal, R6 IDN memang hanya komunitas biasa (bukan perusahaan EO ataupun publisher) meski memang mereka mampu perlindungan pribadi dari Ubisoft; yang mampu dibilang sebagai salah satu publisher game terbesar di dunia ketika ini.

Bentuk Dukungan Ubisoft ke R6 IDN dan Rencana Mereka

Seperti dongeng Bobby tadi, Ubisoft sendiri sebagai publisher R6S sudah menunjukkan perlindungan pribadi ke komunitas dan esports scene R6S di Indonesia. Namun mirip apa bahwasanya perlindungan mereka?

Menurut dongeng Bobby, semua acara dari komunitas R6 IDN menerima perlindungan dari Ubisoft. Bentuk perlindungan tersebut mencakup prize pool (uang tunai untuk hadiah kompetisi, termasuk art competition-nya), in-game currency (R6S Credits), ataupun merchandise (seperti kaos, gantungan kunci, dan kawan-kawannya).

BACA JUGA:  Observer dan Referee, Pekerjaan Penting yang Tersembunyi di Balik Hingar Bingar Esports

Saat awal dukungan, Ubisoft juga mengirimkan dana yang mampu dipakai untuk komunitas ini membeli perlengkapan streaming.

Lalu apa bahwasanya tujuan Ubisoft menunjukkan perlindungan pribadi ke komunitas ini? Bobby pun bercerita bahwa tujuan Ubisoft yaitu untuk mendukung semua acara komunitas R6S, sekaligus meningkatkan popularitas game ini di Indonesia. Rencana Ubisoft ini bahwasanya tak hanya untuk Indonesia tapi juga untuk Asia Tenggara dan Asia secara keseluruhan.

Rencana nyata Ubisoft sendiri bahwasanya sudah cukup banyak untuk Indonesia, Asia Tenggara, dan Asia. Namun hal tersebut masih tak mampu dibuka untuk publik. Semoga saja, Ubisoft dan sejumlah rekanannya mampu turut meramaikan kembali esports PC di Indonesia ya!

Scene Esports & Notable Teams R6S di Indonesia
Jika tadi saya sudah menjelaskan kompetisi-kompetisi R6S di Indonesia dan jenjangnya, kini mari kita lihat kondisi scene esports R6S di Indonesia.

Saat ini, berdasarkan data dari ComCup terakhir, ada 30 tim yang ikut serta turnamen tersebut. Ada belasan tim lain juga yang sudah sering terdengar di banyak sekali kompetisi garapan R6 IDN. Sayangnya, berhubung akan jadi terlalu panjang, saya tak mampu menyebutkan semuanya.

Meski demikian, ada beberapa notable tim R6S yang yang patut diceritakan. Pertama, ada tim yang berjulukan iNation. iNation merupakan salah satu tim R6S tertua di Indonesia. Selain itu, ketika artikel ini ditulis, pemilik tim iNation (yang juga punya bisnis warnet) juga punya 3 tim lagi selain iNation.

Selain iNation, ada tim Ferox. Tim Ferox juga salah satu tim tertua di sejarah kompetisi R6S di Indonesia. Istimewanya, tim ini mempunyai para pemain yang punya skill individu dan gameplay yang unik. Permainan mereka mampu saja berubah tergantung dari siapa lawan yang dihadapi.

Setelah itu, ada yang namanya tim Scrypt. Scrypt mampu dibilang sebagai tim R6S Indonesia yang paling baik catatan prestasinya. Pasalnya, tim ini pernah mewakili Indonesia bertanding di ajang ESL Pro League APAC Finals tahun 2018. Kala itu, tim ini juga diakuisisi oleh Aerowolf, organisasi esports Indonesia yang mampu dibilang paling fokus mengejar esports PUBG.

Sudah berpisah dengan Scrypt, Aerowolf kini juga masih punya tim R6S sebenarnya. Namun tim R6S Aerowolf ketika ini terdiri dari para pemain asal Singapura. Aerowolf, Scrypt, dan Ferox, ketiganya masuk ke dalam ESL Pro League tempat APAC untuk demam isu ini.

Jika berbicara soal jumlah pemain atau penonton, R6S sendiri mungkin memang masih kalah dibanding Dota 2; apalagi dibanding esports game mobile. Namun demikian, satu hal yang perlu dicatat, pemain ataupun penggemar R6S tadi mungkin memang tak akan mungkin mengalahkan jumlah esports mobile.

Kenapa? Karena R6S sendiri memang game berkelas, jikalau tak mau dibilang mahal. Saat artikel ini ditulis, R6S masih dibanderol dengan harga Rp229 ribu di Steam. Itu pun versi paling murahnya. Ada versi Deluxe-nya yang di harga Rp345 ribu dan versi paling lengkapnya (Ultimate Edition) yang mencapai nominal Rp1,149 juta.

Itu tadi masih harga game-nya, belum harga komponen (PC) yang diharapkan untuk bermain R6S dengan nyaman. Rekomendasi sistem minimal yang dicantumkan di Steam ataupun website resmi mereka memang cukup terjangkau namun spesifikasi tersebut belum ideal untuk kelas esports-nya.

Bobby dan saya oke bahwa kartu grafis minimal yang diharapkan untuk bermain R6S dengan nyaman yaitu GeForce GTX 1060 atau yang setara. Belum lagi, saya tahu betul gamer FPS di PC itu yaitu yang paling rewel soal monitor yang refresh rate-nya di atas 60Hz. Saya pun mencoba menciptakan simulasi spek PC yang diharapkan semoga nyaman bermain R6S. Hasilnya? Saya butuh lebih dari Rp20 juta untuk menerima sebuah desktop gaming untuk R6S. Disclaimer, standar spek PC saya mungkin sedikit lebih tinggi dari kebanyakan gamer; jadi mungkin spek desktop di harga belasan juta mampu dikompromikan untuk yang sedikit lebih terbatas.

Karena itulah, pasar esports R6S, termasuk di Indonesia, memang mungkin tidak akan mampu masif layaknya game ponsel namun para gamer R6S bahwasanya mampu dikategorikan ke dalam pasar menengah atas. Pasar ini mampu jadi cocok untuk sasaran pemasaran produk-produk mahal (jika menghitung asumsi daya beli gamer R6S). Namun sayangnya, tampaknya masih belum banyak para pelaku industri esports Indonesia yang memperhitungkan daya beli pasarnya. Lain kali, mungkin saya akan mencoba membahas soal ini lebih detail.

Scene Esports R6S Internasional
Lalu bagaimana dengan scene esports R6S di dunia internasional? Barangkali ada juga tim-tim lain mirip BOOM ID yang lebih tertarik untuk mengejar prestasi internasional, ijinkan saya sedikit bercerita sedikit ihwal ini.

Di dunia internasional, R6S sendiri mungkin memang masih di bawah Dota 2 ataupun LoL dari sisi popularitas ataupun prize pool turnamen. Namun demikian, R6S di sana, berdasarkan saya, sudah sangat mendekati CS:GO (berhubung CS:GO memang tak punya jenjang rapih mirip The International ataupun World Championship).

Di tingkat internasional, R6S punya 2 turnamen utama, yaitu ESL Pro League dan R6 Invitational. Sistem kompetisinya mungkin lebih mirip dengan LoL ketimbang Dota 2. ESL Pro League mampu diibaratkan mirip LCS, LCK, LPL, ataupun liga-liga LoL tiap-tiap kawasan. Pasalnya, Pro League R6S juga dibagi jadi 4 tempat (Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, dan Asia Pasifik), setidaknya hingga artikel ini ditulis.

Sedangkan R6 Invitational yaitu gelaran puncak dari esports R6S di dunia. Turnamen ini mampu diibaratkan mirip World Championship-nya LoL. Selain 2 kompetisi utama tadi, R6S juga punya sejumlah turnamen kelas Minor mirip yang ada di DreamHack 2017 dan 2018. Terakhir kali, G2 yang menjadi juara untuk turnamen paling bergengsi di R6S dan membawa pulang hadiah sebesar US$800K.

Penutup
Akhirnya, Bobby dan kawan-kawan komunitas R6S Indonesia memang punya cita-cita kepada kawan-kawan media, tim esports, event organizer, ataupun sponsor untuk turut memeriahkan esports R6S di Indonesia.

Saya pribadi bahwasanya juga tertarik melihat masa depan esports R6S di Indonesia. Pasalnya, mampu dibilang R6S yaitu salah satu game esports termahal yang ada di Indonesia (yang mampu mengalahkannya, dari sisi harga perangkat, mungkin hanya dari Sim Racing). Jika R6S mampu terkenal di Indonesia, hal ini akan mematahkan anggapan banyak orang, lokal ataupun internasional, yang menyampaikan bahwa Indonesia hanya cocok untuk pasar low-end.

Plus, di sisi industri esports-nya sendiri, bagi saya pribadi; lebih sehat saja jikalau industrinya punya sasaran pasar yang berbeda-beda kelas ekonominya. Ponsel saja punya pembagian terstruktur mengenai sasaran pasar dari yang kelas bawah hingga kelas sultan. Demikian juga dengan industri-industri subur lainnya, mirip pendidikan, properti, F&B, dkk, semuanya punya pembagian terstruktur mengenai pasar yang berbeda-beda.

Sedangkan di esports Indonesia, tampaknya belum banyak yang menyadari hal ini alasannya yaitu kebanyakan pelakunya masih mengejar volume masif yang biasanya memang hanya mampu ditawarkan kelas low-end…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here