[Review] Resident Evil 2, Hidangkan Sensasi Horor Klasik Dengan Penyajian Baru, Siap Rebut Gelar Game Terbaik di 2019
[Review] Resident Evil 2, Hidangkan Sensasi Horor Klasik Dengan Penyajian Baru, Siap Rebut Gelar Game Terbaik di 2019

Capcom berhasil memutuskan sebuah standar gres terkait bagaimana sebuah remake video game seharusnya dibuat.
Saat itu tahun 1998. Mayat hidup memang sudah usang meneror pemirsa layar kaca, tapi kehadirannya di video game terbilang cukup jarang. Dua tahun sebelumnya, Resident Evil laku terjual di Amerika serta Inggris, menyemangati Capcom buat membangunnya jadi franchise raksasa. Setelah proses pengembangan yang panjang serta revisi besar-besaran, Resident Evil 2 lebih sukses lagi dari pendahulunya.

Di E3 2015, Capcom mengungkap planning untuk membangun ulang Resident Evil 2 buat platform game current-gen berbekal teknologi engine dan grafis terbaru, namun gres tiga tahun setelahnya sang developer berkesempatan menyingkap apa yang sudah mereka kerjakan. Pengumumannya di E3 2018 disambut gamer dengan begitu antusias, dan ia menjadi salah satu permainan yang perilisannya paling dinantikan di 2019.

Meski demikian, banyak orang juga cemas mengenai nasibnya. Sejak Resident Evil 4, isyarat franchise ini lebih condong mengedepankan action ketimbang horor. Pada akhirnya, Resident Evil 6 dikritisi akhir kualitas campaign single-player yang tidak rata serta melenceng jauhnya isyarat game dari tema survival horror. Demi mengembalikan Resident Evil ke akarnya, Capcom nekat bereksperimen di permainan ketujuhnya, buat pertama kalinya menyajikan petualangan mendebarkan dalam perspektif orang pertama.

Salah satu alasan keberhasilan Resident Evil 7: Biohazard adalah, game ini berperan sebagai sekuel sekaligus gerbang masuk bagi mereka yang sama sekali belum pernah bermain Resident Evil. Anda tidak perlu menuntaskan permainan-permainan sebelumnya biar mampu menikmatinya, melalui pengenalan tokoh-tokoh serta formula gameplay baru. Tapi bagaimana dengan remake Resident Evil 2?

Tradisi klasik dengan penyajian baru
Situasi sulit yang dihadapi Capcom dalam penggarapan remake Resident Evil 2 yaitu tingginya ekspektasi gamer serta aspek kisah yang bukan lagi diam-diam di kalangan gamer veteran. Itu artinya, tim developer Jepang ini harus menemukan titik keseimbangan antara penyuguhan konten baru, sembari memastikan kengerian khas Resident Evil 2 tetap terjaga. Mereka juga tidak berniat untuk memberikan formula yang pernah digunakan sebelumnya.

Aspek yang menciptakan Resident Evil 2 ‘lawas’ jadi tambah menegangkan yaitu kurang bersahabatnya sistem kendali. Seperti game pertama dan ketiga, Resident Evil 2 mengusung metode kontrol ala tank dengan kamera fixed. Itu artinya, menghindar dan membidik musuh sangatlah sulit. Dari sisi presentasi, RE2 remake sendiri lebih ibarat Resident Evil 4, tetapi ada banyak keputusan jenius dari Capcom yang menciptakan game gres ini se-mengerikan pendahulunya.

Resident Evil 2 remake memanfaatkan sudut pandang kamera orang ketiga over-the-shoulder. Bertolak belakang dari Resident Evil 7, pengendalian abjad terasa lebih intuitif dan kita mampu lebih praktis mengetahui keadaaan di sekitar – apalagi derma keyboard dan mouse di versi PC yang saya mainkan menciptakan kontrolnya lebih luwes lagi. Bahkan sebelum game dimulai, saya mampu mencicipi bagaimana Capcom betul-betul memperhatikan hal ini.

Di PC, segala macam fungsi kendali abjad berada di jangkauan jari Anda. Selain untuk memakai persenjataan, tombol kiri dan kanan mouse berkhasiat buat berinteraksi dengan objek. Lalu lewat kombinasi Tab dan tombol WASD, kita mampu praktis mengakses sajian pause serta membuka dokumen, sangat berkhasiat ketika kita mencoba mencari petunjuk puzzle. Developer juga menyediakan fitur quick turn 180 derajat, tapi berkat ringkasnya mouse, fungsi ini jarang sekali saya gunakan.

Zombie jadi kembali menyeramkan
Seri Resident Evil 2 lahir sebelum ‘zombie berlari’ jadi tren di layar lebar dan video game. Di edisi remake ini, Capcom tidak mencoba mengubah cara mereka menyajikan teror pada pemain – malah terus berpegang pada tradisi lawas Resident Evil. Namun ada sejumlah hal yang Capcom utak-atik biar jenazah hidup tetap mengerikan; pertama yaitu lewat penempatan strategis serta imbas suara, dan kedua ialah dengan mengubah karakteristik mereka.

Saat berjumpa pertama kali dengan jenazah hidup di RE2 remake, insting yang terbentuk dari pengalaman menikmati puluhan game shooter mendorong saya untuk segera menembak mereka di kepala. Langkah ini ternyata keliru. Butuh sekitar tujuh tembakan di kepala buat merobohkan satu zombie. Dan itu artinya ada banyak peluru berharga yang harus dihabiskan bila Anda ingin mengalahkan mereka satu per satu.

Situasi ini menciptakan saya berpikir ulang perihal apa yang harus dikerjakan. Untungnya solusi muncul sebelum terlambat: tembak zombie di kaki untuk memutuskan bab tersebut demi menghambat gerakan mereka. Lebih baik hindari lawan dari pada konfrontasi langsung, kecuali bila tak ada pilihan lain. Dengan cara itu, kita mampu lebih menghemat amunisi. Metode ini mengingatkan saya pada bagaimana cara menangani Necromorph di Dead Space.

Pola pikir ‘hidari ketimbang konfrontasi’ tersebut penting alasannya yaitu di satu titik dalam permainan, pemain akan berhadapan dengan lawan yang tak mampu dikalahkan. Kita hanya mampu melarikan diri atau membuatnya roboh secara sementara, namun ia gres benar-benar mampu tumbang ketika pemain menerima senjata berukuran besar. Tyrant ber-codename Mr. X ini akan terus memburu Anda. Ia akan mengejar ketika melihat Anda dan berpatroli tanpa lelah. Itu berarti, pengetahuan terhadap lokasi serta kesadaran lingkungan sangatlah esensial.

Berkaitan dengan faktor awareness tadi, saya sangat mengapresiasi desain audio edisi remake ini. Suara derakan nafas dan rintihan zombie terdengar sangat menyeramkan, apalagi bila muncul dari lokasi yang tidak disangka. Suara juga mampu sangat membantu, apalagi ketika Anda sudah mulai dikejar oleh sang tyrant. Bunyi derap langkah mampu terdengar ketika ia berada di dekat kita, dan itulah alasannya saya sangat menyarankan penggunaan headset berfitur surround 7.1.

Namun mirip lebih banyak didominasi game survival horror sejenis, Resident Evil 2 (2019) masih mengandalkan elemen jump scare. Kejutan mampu saja bersembunyi di tiap lorong dan tikungan, atau di tempat-tempat yang Anda kira aman. Sejujurnya, pendekatan ini mulai terasa membosankan, terutama bila Anda punya pengalaman dalam menangani permainan-permainan semisal Bloodborne, Amnesia atau Alien: Isolation.

BACA JUGA:  Mobile Legends Keluarkan Skin Hylos Sebagai Skin Season 13 untuk Para Tanker!

Bagi saya, bab terbaik dari Resident Evil 2 remake yaitu kehadiran Mr. X serta ketidakpastian dan kepanikan yang ia timbulkan. Sensasinya mirip ketika menghadapi Xenomorph di Alien: Isolation. Bedanya, sang tyrant tidak bergerak secepat alien sehigga lebih praktis dihindari. Dan bahkan di situasi terpojok sekali pun, maut dini mampu dielakkan bila Anda mampu berpikir serta beraksi cepat atau kebetulan membawa peralatan yang tepat.

Nostalgia dengan wajah-wajah lama
Remake Resident Evil 2 kembali mempersilakan Anda bermain sebagai dua tokoh favorit di franchise ini, Leon S. Kennedy dan Claire Redfield. Penampilan keduanya diubahsuaikan dengan standar desain abjad modern, berbasis pada gaya tahun 90-an (rambut belah pinggir Leon tidak direvisi, sukurlah). Kedua tokoh ini sepertinya pernah menjalani training bela diri dan senjata api, tapi sama sekali belum berpengalaman dalam menghadapi jenazah hidup. Claire ialah seorang mahasiswi, sedangkan Leon yaitu polisi pemula.

Claire dan Leon akan menjalani pengalaman berbeda di Kota Raccoon, namun narasi yang mereka lalui kurang lebih sama. Kedua tokoh beberapa kali bertemu, mengunjungi lokasi serupa, serta menuntaskan teka-teki yang sama. Walaupun demikian, kisah Leon menyuguhkan sensasi ala pemeriksaan polisi, sedangkan kisah Claire bekerjasama dengan tema keluarga. Perbedaan di sisi narasi terletak pada NPC yang mereka temui, kemudian beberapa area cuma mampu diakses oleh abjad tertentu.

Game memang dirancang untuk diselesaikan minimal dua kali, dan Capcom sudah menyiapkan banyak hal untuk memotivasi kita melakukannya – contohnya lewat kostum baru, abjad rahasia, dan sistem achievement. Alternatifnya, menamatkan permainan secepat mungkin di tingkat kesulitan tertentu akan membuka bonus amunisi tak terbatas yang mampu digunakan di petualangan Anda berikutnya.

Selain menghadapi jenazah hidup dan senjata biologis, puzzle merupakan elemen esensial dari Resident Evil 2. Mereka yang familier dengan seri ini akan segera menyadari bahwa segala sesuatu di game tidaklah sederhana. Contohnya sewaktu Claire mencoba membuka gerbang area parkir mobil. Ia harus menerima kunci, buat memperoleh kunci berbeda, demi menerima sirkuit listrik pengganti biar pintu mampu terbuka, untuk memperoleh keycard di dalamnya.

Penyelesaian teka-teki dipersulit dengan sistem inventory yang sangat terbatas. Bahkan tanpa item-item quest, kita akan terus mengadapi duduk perkara soal barang-barang apa saja sebaiknya dibawa: apakah pisau, amunisi untuk senjata sekunder, atau obat? Sejumlah senjata berukuran besar memakan lebih dari satu slot penyimpanan. Bersediakah Anda meninggalkannya demi ruang penyimpanan yang lebih lega?

Satu hal yang sangat saya sukai ialah, banyak hal tak dijelaskan secara gamblang dan pemain sering kali harus mencari jawabannya sendiri – contohnya ‘mencuci film’ buat mencari petunjuk, melacak kode loker yang tersembunyi di lokasi berbeda, dan menyadari bahwa papan kayu berkhasiat untuk menutup jendela untuk menghalangi zombie masuk. Dan di sejumlah skenario, beberapa item penting disembunyikan di benda lain (kunci atau watu permata), mendorong kita buat mengusut objek secara teliti.

Konklusi
Bagi saya, edisi PC Resident Evil 2 remake ialah versi terbaik. Di sistem berprosesor Intel Core i7-6700HQ dan berkartu grafis GeForce GTX 1070, permainan berjalan sangat mulus di setting visual tertinggi dengan resolusi 1080p, rata-rata di atas 100-frame per detik. Di tingkat ini, detail wajah, lipatan di jaket, sampai imbas lembap pada pakaian terlihat jelas. Lalu, game juga mampu dibeli di harga lebih ekonomis. Ketika Resident Evil 2 di PlayStation 4 dibanderol di atas Rp 700 ribu, edisi Steam mampu dimiliki cukup dengan mengeluarkan uang kurang dari Rp 500 ribu.

Remake Resident Evil 2 merupakan salah satu game yang dibahan-bakari konsep nostalgia. Namun berbeda dari upaya remake/remaster judul lain, Capcom tidak mengambil jalan pintas. Seluruh aset permainan dibangun dari nol, berbekal engine RE yang digunakan dalam penggarapan Resident Evil 7: Biohazard, dan upaya developer tidak sia-sia. Game ini memberikan keseimbangan antara aspek-aspek gres dan lawas, menciptakan petualangan horor di sana terasa menyegarkan, dan siap merebut gelar permainan terbaik di 2019.

Resident Evil 2 mengingatkan kembali mengenai hal yang menciptakan saya jatuh hati pada franchise ini. Saya akan segera merekomendasikannya pada siapa saja yang mengaku fans berat Resident Evil atau penggemar permainan horor pada umumnya. Capcom berhasil memutuskan sebuah standar gres mengenai bagaimana sebuah remake video game seharusnya dikerjakan. Tapi sebelum membelinya, perlu diketahui bahwa permainan ini kental dengan tema kekerasan, sangat tak disarankan bagi Anda yang sensitif dengan kejutan dan darah.

Jika boleh diberi kesempatan untuk memberi masukan, saya pribadi bantu-membantu berharap biar Capcom menghidangkan dunia game secara lebih luas dan ekspansif. Seperti edisi tahun 1998-nya, struktur level Resident Evil 2 remake terdiri dari lorong-lorong saling menyambung yang berujung pada area hub. Seandainya permainan menyuguhkan ruang lebih terbuka, akan ada banyak peluang buat membenamkan elemen gameplay lain. Lalu, bayangkan serunya bermain bersama mitra bila game juga dibekali mode multiplayer kooperatif.

Sparks
Standar tinggi dalam penggarapan remake
Gameplay gres dengan sensasi horor khas Resident Evil klasik
Konten melimpah walaupun campaign-nya linier
Tingkat kesulitan teka-teki yang pas, tidak terlalu susah ataupun mudah
Desain audio jempolan
Berjalan mulus di PC

Slacks
Dunia permainan yang kurang terbuka
Jump scare jadi cara utama buat mengagetkan Anda
Absennya mode multiplayer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here