[Review] Metro Exodus, Simulasi Post-Apocalypse Dengan Pesona Khas Rusia
[Review] Metro Exodus, Simulasi Post-Apocalypse Dengan Pesona Khas Rusia

Developer 4A Games berhasil menemukan titik keseimbangan antara tradisi dan inovasi, walaupun belum bisa sepenuhnya membebaskan Metro Exodus dari jeratan bug.
Tak hingga setengah jam lalu, sampan Artyom diserang dan dijungkirbalikkan oleh ikan lele seukuran paus. Dan sekarang ia harus menghadapi udang raksasa ganas, sembari berkutat dengan senapan serbunya yang macet. Seperti inilah serba-serbi hidup di dunia post-apocalypse. Tema tersebut memang tak ajaib buat kita, namun seri Metro merupakan satu dari sedikit franchise yang betul-betul mengedepankan elemen action, penyajian cerita, dan survival.

Metro Exodus yaitu game ketiga di seri shooter yang disesuaikan dari novel goresan pena Dmitry Glukhovsky, Metro 2033. Ketika sang penulis mengalihkan fokusnya pada aksara gres di buku kedua (Metro 2034), developer 4A Games menetapkan untuk tetap menitikberatkan narasi pada Artyom dan memodifikasi judul permainan keduanya jadi Metro: Last Light, dan Metro Exodus sebagai penerusnya.

4A Games ialah studio asal Ukraina, didirikan 13 tahun silam oleh sejumlah mantan jebolan tim GSC Game World yang dahulu menggarap franchise S.T.A.L.K.E.R. Dalam kiprahnya, kedua franchise mengambil instruksi berbeda. Ketika S.T.A.L.K.E.R. menyuguhkan dunia open world tulen, Metro mengusung struktur linier, lebih condong pada narasi, dan menonjolkan gameplay stealth. Namun ada perubahan desain di Exodus sehingga membuat Metro jadi lebih ibarat sepupu jauhnya itu.

Simak ulasan lengkapnya:

Rusia sehabis perang nuklir
Sesi pembuka permainan disajikan lewat cara familier. Begitu Anda mengklik tombol new game, Artyom sebagai tokoh utamanya akan menceritakan kisah singkat bagaimana miliaran orang tewas akhir perang nuklir dan puluhan ribu jiwa yang ‘beruntung’ terjebak dalam lorong-lorong kereta api bawah tanah. Mereka harus melanjutkan peradaban tanpa sinar matahari lantaran daerah permukaan yang terpapar radiasi.

Untuk menjelajahi reruntuhan Moskow, orang harus mengenakan baju epilog lengkap dan masker lantaran udara sangat berbahaya. Filter harus diganti secara berkala. Terpapar sedikit saja, radiasi akan masuk ke dalam darah. Kemudian selain radiasi, permukaan dipenuhi oleh mutan dan anomali mematikan (hati-hati dengan bola petir). Namun gorong-gorong bawah tanah juga menyimpan bahayanya sendiri. Bukan peradaban insan namanya bila tidak dipenuhi konflik dan perang saudara, terutama ketika tak ada lagi aturan aturan yang jelas.

Demi menjaga keamanan dan menanggulangi ancaman serangan cecunguk serta monster, pemerintah darurat kota bawah tanah Polis membentuk tubuh Rangers of the Sparta Order. Para Rangers terdiri dari prajurit berpengalaman dan paling mematikan, dan Artyom merupakan anggotanya.

Metro Exodus sanggup dinikmati tanpa perlu menuntaskan dua permainan terdahulu. Meski begitu, saya sangat menyarankan Anda untuk memainkan 2033 dan Last Light biar lebih bisa memahami kondisi dunia tempat Artyom tinggal. Dua game ini sempat di-remaster untuk platform current-gen, diberi label ‘Redux’ dan ditawarkan di harga murah meriah.

Antara tradisi dan inovasi
Dalam bertahan hidup, pemahaman Anda terhadap dunia Metro sangat penting. Seperti di dua permainan sebelumnya, Exodus hampir tidak mempunyai HUD. Segala macam informasi disampaikan secara eksklusif – lewat meteran, timer dan indikator yang terpasang di seragam Ranger. Game juga akan menunjukkan gejala lain bila ada sesuatu yang tidak wajar: sensor segera berderak ketika Artyom berada di tempat dengan radiasi tinggi, dan ia akan terbatuk-batuk bila filter di masker tak lagi bekerja.

Namun bersamaan dengan penyajian dunia yang lebih terbuka, beberapa hal harus berubah. Dahulu, seri Metro memanfaatkan sebuah sistem mata uang unik. Segala komoditas di sana bisa dibeli dengan menukarkan amunisi kelas militer. Sedangkan untuk bertahan diri, orang membuat amunisi dari bahan-bahan yang ada. Di saat-saat genting, kondisi ini akan menyodorkan dilema buat pemain: amunisi kelas militer lebih efektif buat menumbangkan lawan, tapi rela-kah Anda menggunakannya?

Di Metro Exodus, mata uang berbasis amunisi digantikan oleh sistem crafting. Ada dua jenis sumber daya esensial di sini, ditandai dengan icon botol kimia dan gear. Keduanya tersebar di banyak sekali tempat, contohnya di dalam bangunan, kendaraan yang ditinggalkan, ataupun jenazah manusia. Dengan dua item itu Anda bisa membuat bermacam-macam hal yang dibutuhkan, contohnya amunisi, filter, obat, hingga buat meng-upgrade baju pelindung.

Crafting bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu memakai ransel yang Artyom bawa atau via meja kerja (workbench). Tas hanya memungkinkan Anda membuat medkit dan filter serta mengubah embel-embel senjata; sedangkan berbekal workbench, Anda bisa crafting dan membersihkan senjata secara lebih leluasa. Seperti di RDR2, semakin kotor kondisi senapan, maka ia jadi kurang efektif dan sering kali macet. Degradasi tersebut disebabkan oleh banyak hal, contohnya lantaran dipakai terus-menerus atau terkena cipratan lumpur.

Upgrade dan kustomisasi yaitu salah satu pecahan terbaik di Metro Exodus. Hampir semua senjata bisa dimodifikasi biar sesuai dengan gaya bermain Anda. Ambil contohnya Ashot. Tanpa aksesori, ia tersaji sebagai pistol berpeluru shotgun. Ashot bisa dipasangkan popor biar lebih stabil atau diberi laras kedua sehingga sanggup merumahkan dua peluru. Alternatifnya, laras bisa diganti dengan tipe peredam, dan Anda menerima pistol siluman jarak dekat mematikan.

Favorit saya sendiri yaitu senapan angin Tikhar. Pemakaiannya memang sedikit rumit: ada harus mengawasi jumlah peluru serta tekanan angin, dan memompanya bila diperlukan. Namun ia tepat untuk menumbangkan musuh secara sembunyi-sembunyi lantaran tidak berisik ketika ditembakkan.

Aspek lain yang sangat saya apresiasi lantaran senada dengan tema survival yaitu bagaimana Exodus sukses membuat pemain selalu merasa was-was. Game bisa di-pause, tetapi permainan tetap berjalan ketika Anda mengeluarkan peta, mengecek misi, atau sedang crafting. Hal ini memaksa kita untuk tidak pernah membuang-buang waktu serta selalu ingat buat memastikan keamanan di sekitar sebelum mengutak-atik senjata atau meramu amunisi.

Pesona pasca-bencana
Metro Exodus ialah salah satu game tercantik yang bisa Anda nikmati ketika ini. Bahkan tanpa derma GPU berteknologi ray tracing, permainan bisa menyajikan visual yang mencengangkan. 4A Games berhasil meracik aspek atmosfer dengan begitu optimal, sehingga pemain mirip betul-betul dibawa ke Rusia kala pasca-perang nuklir. Dan itu semua akan Anda dapatkan sehabis Artyom dan kawan-kawan meninggalkan Moskow dan tiba di kaki pegunungan Ural.

Di satu titik dalam permainan, para Rangers berhasil memperoleh lokomotif dan menyadari bahwa lingkungan terbuka punya kadar radiasi yang lebih rendah, memungkinkan mereka menghirup udara segar tanpa masker. Meski demikian, alam liar tetap menyimpan banyak sekali bahaya. Seperti ketika berada di terowongan bawah tanah, ancaman tiba dari monster serta sesama manusia. Dan bertahan hidup jadi lebih sulit lantaran indahnya alam berpotensi memecah perhatian Anda.

Dunia dan tiap objek di Metro Exodus diracik dengan penuh ketelitian: karat pada bangunan dan bekas kendaraaan di tengah-tengah hamparan salju, suara langkah kaki di atas genangan lumpur, sinar matahari di sela-sela awan, turunnya jarak pandang akhir tornado petir, dan saya sangat menyukai imbas partikel mirip salju dan tetesan air hujan yang mengenai wajah Artyom. Tema low-tech terasa begitu kental di segala hal berkat tangan masbodoh 4A Games dalam menggarap detail, dari mulai senjata rakitan hingga baterai senter yang harus diisi secara manual.

BACA JUGA:  Sepuluh Game Android Offline RPG Terbaru April 2019 Ini Dijamin Bikin Kamu Ketagihan Main

Sekali lagi, hampir semua elemen visual di dunia Metro punya kaitan pada gameplay. Misalnya, cipratan tanah (atau darah) di masker bisa mengganggu penglihatan, dan Anda sanggup mengelapnya; beling di masker bisa rusak akhir serangan lawan, ditandai oleh munculnya retakan, dan Artyom sanggup memperbaikinya; kemudian ketika kadar radiasi terlalu tinggi, Anda mulai melihat bintik-bintik cahaya hijau. Dipadu dengan sistem cuaca dinamis serta perputaran siang dan malam, game jadi lebih menantang sekaligus mengasikkan.

Stealth kembali memegang peranan penting di Metro Exodus, dan di sini perputaran siang dan malam membuatnya sangat menarik. Untuk memudahkan Anda mengendap-endap, seragam Rangers Artyom dibekali indikator visibilitas. Jika lampu menyala, maka musuh sanggup melihat Anda. Kondisi tersebut memengaruhi permainan serta memaksa pemain buat beradaptasi. Musuh insan lebih gampang melihat Artyom selama ada cahaya matahari, dan mereka akan beristirahat di malam hari. Kendalanya, mutan dan monster jadi lebih ganas ketika matahari terbenam.

Tak mirip lebih banyak didominasi game shooter, amunisi sangat terbatas dan jadi komoditas berharga di Metro Exodus. Anda memang bisa membuatnya sendiri, tapi itu berarti Anda harus mengorbankan material-material crafting yang berharga. Mungkin ada amunisi atau bahan-bahan mempunyai kegunaan yang dijatuhkan oleh para bandit, namun tidak ada untungnya membunuh monster selain buat mempertahankan diri.

Sering kali lebih bijaksana bagi Artyom untuk menghindar ketimbang melaksanakan konfrontasi. Dan bila selalu waspada dan tidak bermain terlalu terburu-buru, kemungkinan besar Anda akan menemukan jalan pintas atau pintu masuk tersembunyi.

”Lalu seberapa terbuka-kah Metro Exodus?” inilah pertanyaan yang banyak diajukan orang. Pada dasarnya, Exodus bukanlah permainan open world sekelas Fallout 4 atau Mad Max. Ketika sebuah episode telah berakhir, demam isu akan berubah, dan Anda tidak bisa kembali ke tempat tersebut (kecuali dengan mengulang chapter). Walaupun begitu, masing-masing lokasi mempunyai skala sangat besar, dan eksplorasi sangat dianjurkan. Ada banyak hal menarik bisa ditemukan dan side quest yang sanggup dikerjakan di sana.

Satu saran lagi dari saya ialah, mainkanlah Metro Exodus di bahasa Rusia lantaran percakapan lebih terdengar natural. Anda tetap bisa mengaktifkan subtitle, baik ketika obrolan maupun untuk menerjemahkan tulisan-tulisan Cyrillic. Opsi bahasa Inggris memang ada, tetapi jalan masuk Rusianya terasa terlalu dipaksakan. Lagi pula ada pepatah renta mengatakan, ‘di mana Bumi dipijak, di sana langit dijinjing’. Metro Exodus ialah game kreasi developer Slavik, sudah semestinya kita menghargai budaya mereka.

Yin dan yang
Satu aspek yang membuat dua permainan terdahulu unik yaitu sistem hukuman alam tersembunyi. Buat menerima ending baik, ada aktivitas-aktivitas tertentu yang harus Anda lakukan. Kemudian Anda sangat direkomendasikan untuk tidak menumpahkan darah. Sistem ini disederhanakan di Metro Exodus. Game kembali memperkenankan kita untuk mengalahkan musuh tanpa perlu membunuh. Jika jumlah mereka berkurang, kadang lawan akan mengalah serta membuang senjatanya. Langkah Anda selanjutnya akan memengaruhi karma: dibunuh atau sekadar dibentuk pingsan?

Mengerjakan side quest, membebaskan penduduk, atau sekadar menurunkan senjata dan tidak menodongkannya pada warga ketika berdialog juga membantu menunjukkan Artyom poin positif. Misi-misi sampingan di Exodus tidak ditulis di memo, dan item yang berafiliasi dengannya kadang tersembunyi di suatu lokasi. Itu artinya Anda harus selalu awas dan memastikan telah menggeledah suatu tempat secara menyeluruh.

Mutan versus bug
Dengan begitu banyaknya hal yang Metro Exodus coba suguhkan, permainan shooter semi-sandbox ini tidak benar-benar bebas dari bug dan glitch. Dalam beberapa puluh jam bermain, saya menemui sejumlah hambatan mirip musuh yang bisa menembus jeruji besi serta menyangkut di tembok. Saya juga mengalami dua kali crash to desktop, kemudian game menyarankan saya untuk masuk ke safe mode.

Kabar baiknya, sejauh ini tidak ada duduk perkara yang menjadikan Metro Exodus jadi tak bisa dimainkan. Versi PC-nya berjalan lancar dengan setting ultra dan opsi resolusi 1080p di sistem berprosesor Intel Core i7-6700HQ, 16GB RAM dan kartu grafis Nvidia GeForce GTX 1070.

Satu kekurangan lain yang cukup mengecewakan ialah rendahnya tingkat intelektualitas lawan. Kadang, beberapa mutan cukup berilmu untuk bersembunyi dan menyerang sewaktu Artyom lengah. Monster udang raksasa akan menembakkan racun, sedangkan humanimal (mirip feral ghoul di Fallout) bisa melempar batu. Tapi musuh insan tidak terlalu pintar. Mereka tidak melaksanakan investigasi secara garang ketika tahu ada penyusup, bahkan musuh tidak mencoba mengejar atau menyergap ketika melihat saya.

Verdict
Terlepas dari sejumlah kekurangan itu, saya tidak segan buat merekomendasikan Metro Exodus bagi setiap penggemar shooter. Exodus menunjukkan angin segar di tengah pasar yang ketika ini disesaki oleh game-game FPS multiplayer dan battle royale. Dan walaupun beberapa judul blockbuster turut mengusung tema post-apocalypse (misalnya Far Cry New Dawn atau Rage 2), ada banyak elemen unik yang membuat Exodus istimewa: narasi dan latar belakang dongeng yang menarik, dikombinasi dengan aksi tembak-menembak seru, eksplorasi, misteri, dan gameplay stealth menegangkan.

Meski boleh dikatakan sebagai versi terbaik, satu faktor yang membuat banyak orang ragu membeli Metro Exodus di PC yaitu ia tidak dijual di Steam, dan hanya bisa didapatkan di Epic Games Store. Efeknya, Ecodus dijajakan tanpa penyesuaian harga dan Anda harus mengeluarkan uang lebih dari Rp 730 ribu hanya untuk memperoleh edisi paling standar. Ada dua alternatif atas keadaan ini: tunggu hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menguat, atau tunggu hingga tanggal 15 Februari 2020 ketika Metro Exodus balasannya dirilis di Steam.

Pertanyaannya, bersediakah Anda menanti begitu lama?

Sparks
Visualnya sangat indah dengan imbas atmosfer memukau
Menyajikan pengalaman shooter memuaskan
Dunianya sangat luas, ada banyak tempat yang bisa dijelajahi dan misteri untuk dipecahkan
Saat ini tak banyak game shooter yang betul-betul didedikasikan pada aspek dongeng dan single-player
Dibekali mode foto dengan bermacam-macam perkakas untuk memudahkan Anda menerima screenshot terbaik

Slacks
Baru bisa dibeli di Epic Games Store, harganya kurang bersahabat
Tidak bebas dari bug dan glitch
AI semestinya bisa lebih berilmu lagi
Pemain tidak sanggup kembali ke lokasi sebelumnya, hanya bisa mengulang chapter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here